Jumat, 11 September 2026

PENGARUH PEMBERIAN RAGI ROTI DAN PUPUK UREA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN ROTIFER (Brachiounus plicatilis)

PENGARUH PEMBERIAN RAGI ROTI DAN PUPUK UREA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN ROTIFER (Brachiounus plicatilis)





NASKAH PUBLIKASI










Oleh :

KHILAL ADITYA 

NIM. 2018154243028







PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN 

UNIVERSITAS 45 MATARAM

2022



HALAMAN PEGESAHAN


NASKAH PUBLIKASI


PENGARUH PEMBERIAN RAGI ROTI DAN PUPUK UREA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN ROTIFER (Brachiounus plicatilis)



Oleh :

KHILAL ADITYA 

NIM. 2018154243028



Naskah ini telah diperiksa dan disetujui oleh Tim Pembimbing


Nama

Status Pembimbing

Tanda tangan



Naning Dwi Sulystyaningsih S.Pi., M.Si.


Pembimbing I


..............



L. Achmad Tan Tilar WSK., S.Si.,M.Sc.


Pembimbing II


..............







PERNYATAAN



Dengan ini kami selaku dosen pembimbing skripsi mahasiswa sarjana :


Nama : Khilal Aditya

NIM : 2018154243028

Program Studi : Budidaya Perairan


Setuju/tidak setuju *) naskah ringkasan penelitian (manuskrip penelitian mahasiswa) yang disusun oleh mahasiswa bersangkutan dapat dipublikasikan dengan/tanpa*) mencantumkan nama tim pembimbing sebagai co-author.


Demikian pernyataan ini kami buat agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.



Mataram, 10 September 2022

Nama

Status Pembimbing

Tanda tangan



Naning Dwi Sulystyaningsih S.Pi., M.Si.


Pembimbing I


..............



L. Achmad Tan Tilar WSK., S.Si.,M.Sc.


Pembimbing II


..............








PENGARUH PEMBERIAN RAGI ROTI DAN PUPUK UREA TERHADAP 

LAJU PERTUMBUHAN ROTIFER (Brachiounus plicatilis)


THE EFFECT OF GIVING BREAD YEAST AND UREA FERTILIZER ON

ROTIFER GROWTH RATE (Brachiounus plicatilis) 


Aditya khilal1, Naning D.S.1.., L.A.T.T.W.²


1 Program Studi Budidaya Perairan Universitas 45 Mataram, Mataram

2 Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Universitas 45 Mataram, Mataram

*Penulis Korespondensi: tantilar@gmail.com


INTISARI

Jenis pakan alami yang baik dan memiliki nilai gizi yang sangat tinggi dapat menunjang kehidupan larva ikan adalah Rotifer (Banchionus plicatilis). Jenis pakan alami ini memiliki kemampuan berkembang baik dalam waktu relatif singkat. Tujuan penelitian adalah mengetahui dan mendeskrispsikan Pengaruh Pemberian Ragi roti dan pupuk urea terhadap laju pertumbuhan rotifer (B. plicatilis). Penelitian dilaksanakan selama 9 hari kultur dengan 12 unit percobaan. Berdasarkan hasil pemeliharaan pengamatan rotifer selama 9 hari diperoleh populasi tertinggi dan populasi terbaik pada setiap perlakuan adalah pengaruh Perlakuan-1 Ragi roti dosis 150mg/l, dengan nilai laju pertumbuhan (3,99 ind/ml), pertumbuhan Spesifik (0,77%), dan waktu penggandaan diri (2,02/jam) dapat menghasilkan nilai rata-rata populasi (69,4 ind/ml), ditandai populasi (149 ind/ml) pada hari puncaknya. selanjutnya Perlakuan 2 pupuk Urea dosis 150mg/l nilai laju pertumbuhan (3,44 ind/ml), pertumbuhan Spesifik (0,71%), dan waktu penggandaan diri (2,14/jam) rata-rata kepadatan populasi menghasilkan (42,9 ind/ml), populasi hari puncaknya (102 ind/ml). Perlakuan 3, gabungan ragi dengan urea 150 mg/l menghasilkan kepadatan rata-rata (36,1ind/ml), dengan (97ind/ml) pada hari puncak populasi. Kualitas air selama penelitian diperoleh kisaran suhu 23-31°c,kisaran pH antara (8,1-8,2) dan kisaran salinitas (35-40 ppt). 

Kata kunci : Laju pertumbuhan, Rotifer, Ragi, Urea

ABSTRACT

 The type of natural food that is good and has a very high nutritional value that can support the life of fish larvae is Rotifer (Banchionus plicatilis). This type of natural food has the ability to develop well in a relatively short time. The purpose of this study was to determine and describe the effect of giving baker's yeast and urea fertilizer to the growth rate of rotifer (B. plicatilis). The study was carried out for 9 days of culture with 12 experimental units. Based on the results of the maintenance of rotifers for 9 days, the highest population and the best population in each treatment was the effect of Treatment-1 Bread yeast dose of 150mg/l, with a growth rate value (3.99 ind/ml), Specific growth (0.77%) , and the doubling time (2.02 ind/hour) can produce a population mean value (69.4 ind/ml), marked by the population (149 ind/ml) on the peak day. then the treatment of 2 Urea fertilizers at a dose of 150mg/l the value of growth rate (3.44 ind/ml), specific growth (0.71%), and self-doubling time (2.14/hour) the average population density resulted (42, 9 ind/ml), peak day population (102 ind/ml). Treatment 3, combined yeast with 150 mg/l urea resulted in an average density (36.1ind/ml), with (97ind/ml) on the peak population day. Water quality during the study obtained a temperature range of 23-31°c, a pH range between (8.1-8.2) and a salinity range (35-40 ppt).

Keyword : Bread yeast, growth rate, rotifer, urea.


PENDAHULUAN

Rotifera (Brachionus plicatilis) adalah salah satu jenis zooplanktonyang umum digunakan sebagai pakan alami bagi larva ikan laut, larva udang dan larva kepiting pada tahap awal pertumbuhan dan perkembangannya (Nur, et al., 2022). Rotifera juga merupakan mata rantai penting dalam keberhasilan usaha pembenihan ikan, sehingga rotifera umumnya di kultur massal untuk diberikan sebagai pakan pada fase larva. Rotifera juga berpeluang besar dijadikan sebagai biokapsul alami bagi larva, karena dapat mentransfer senyawa-senyawa dari lingkungan ke tubuh larva (Sahandi & Jafaryan, 2011).

Menurut Redjeki, (1999) kelebihan yang dimiliki rotifer seperti, mudah dicerna oleh larva ikan, mempunyai ukuran yang sesuai dengan mulut larva ikan, mempunyai gerakan yang sangat lambat sehingga mudah ditangkap oleh larva, mudah dikultur secara massal, pertumbuhan dan perkembangannya sangat cepat dilihat dari siklus hidupnya, tidak menghasilkan racun atau zat lain yang dapat membahayakan kehidupan larva serta memilki nilai gizi yang paling baik untuk pertumbuhan larva.

Ketersediaan pakan rotifer erat kaitannya dengan keberhasilan suatu upaya pembenihan misalnya pada pemeliharaan larva ikan belanak (Tamaru,et al.,1991). Potensi budidaya perikanan laut berkembang sangat pesat akan tetapi belum diimbangi dengan ketersediaan larva yang berkualitas, baik dari segi jumlah, mutu dan keberlangsungannya. Faktor yang mempengaruhi kegiatan pembenihan adalah penyediaan pakan larva yang cukup dan tersedia pada waktu yang bersamaan saat pembudidaya menggunakan pakan buatan, namun keberadaan pakan alami sangat mutlak dibutuhkan dan tak tergantikan (Sururi, 2014). 

Permasalahan yang sering ditemui dalam pembenihan ikan adalah tingginya tingkat kematian dari larva ikan, hal ini disebabkan karena kekurangan makanan pada saat kritis, yaitu pada masa penggantian dari makanan kuning telur ke makanan lain. Untuk mengatasi tingginya kematian ikan pada stadia larva ini perlu disediakan makanan, dimana makanan yang diberikan harus memenuhi beberapa syarat yaitu ukuran makanan yang diberikan lebih kecil dari bukaan mulut benih ikan tersebut.

Bahan dan Metode Penelitian

Lokasi penelitian

Penelitian ini dilaksanakan, selama satu bulan yakni bulan Juli 2022 di Devisi Pakan Alami Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok, Dusun Gili Genting, Kecamatan Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Alat dan bahan penelitian

 Alat-alat yang akan digunakan dalam penelitian, Wadah Toples ukuran 10 L, Batu aerasi, selang aerasi dan keran, pipa saluran oksigen, timbangan digital, termometer, pH meter, Refraktometer, DO meter, gayung, saringan, pipet tetes, mikroskop komputer, handcounter, sedgewick rafter cell, gelas beker, plastik dan alat tulis. Sedangkan untuk bahan utama Bibit rotifer, ragi roti kering, pupuk urea, air laut, dan alat-alat pembersih lainnya. 

Metode Penelitian 

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen yaitu data yang dikumpulkan merupakan data sesungguhnya yang didapatkan dilapangan.Penelitian ini akan menggunakan metode eksperimen dengan 12 unit wadah percobaan Penelitian yang terdiri dari 4 perlakuan yang diulang masing-masing 3 kali ulangan dimana :

Perlakuan 0 : Tanpa Pakan 

Perlakuan 1 : Pemberian Ragi Roti dengan dosis 150 mg/L

Perlakuan 2 : Pemberian Pupuk Urea dengan dosis 150 mg/L

Perlakuan 3: Penggabungan antaran Ragi dan Pupuk Urea dengan dosis 

(150 mg/l)

Metode analisis data  

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan terdiri atas Kepadatan Populasi (ind/ml) Laju pertumbuhan Populasi (K), Laju Pertumbuhan spesifik (SGR), dan waktu Penggandaan diri (Double time), serta kualitas air selama pemeliharaan (Suhu, salinitas, pH, amoniak dan Do). Data sekunder yang dikumpulkan yanitu data dokumentasi Lembaga/instansi relevan, lembaga penelitian, publikasi ilmiah, buku, dan sumber-sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini.

Laju pertumbuhan Populasi, menurut Fogg (1975) :



Keterangan: 

K = Laju pertumbuhan jumlah populasi Brachionus plicatilisi, ind/ml, 

Nt = Jumlah populasi Brachionus plicatili setelah hari tebar, 

N0 = Jumlah populasi awal Brachionus plicatilis, 

t = waktu


Laju Pertumbuhan Spesifik, Fogg (1975) :




Keterangan : 

SGR = Spesific growth rate (% per jam), N0 dan 

Nt = Kepadatan pupolasi (ind/mL) pada awal dan akhir periode 

pengamatan, 

t = lama periode pengamatan (jam)

t0 = Waktu periode awal 


Waktu Penggandaan diri (Double Time)/DT




Ket : 

DT = Double time (jam), 

N0 dan Nt = Kepadatan pupolasi (ind/mL) pada awal dan akhir periode 

pengamatan, 

Δt = Lama waktu dalam satu waktu periode pengamatan (jam).

Kepadatan Populasi Rotifer (ind/ml)

Parameter kualitas air

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analysis of variance (Anova) signifikasi 5% (0,05). Apabila terdapat pengaruh yang berbeda nyata, maka dilakukan Uji lanjut dengan uji BNT (Torrie,1993).

Hasil penelitian

 Kepadatan populasi (ind/ml)

Hasil perhitungan tingkat kepadatan rotifer dilakukan setiap hari dalam penelitian, untuk mengetahui tingkat populasi apakah hidup dan berkembang dalam satuan periode harian kultur dalam setiap pengamatan didalam Laboratorium Pakan alami menggunakan komputer, sedgewick rafter cell dan diamati dibawah microskop. 



Tingkat kepadatan popululasi sebagai berikut


Gambar 1. Grafik Tingkat kepadatan Populasi

Kepadatan terus bertambah terlihat padahari ke-2 sampai hari ke-5, hal ini dapat dikatakan bahwa selama 24 jam rata-rata terjadi peningkatan populasi sehingga diasumsikan sebagai laju reproduksi mengalami peningkatan kecuali Perlakuan kontrol. Puncak kepadatan populasi yakni pada hari kelima. Nilai data setelah dilakukan perhitungan tersebut diketahui bahwa hasil populasi kepadatan individu/ml pada pengamatan ini dengan perlakuan terbaik adalah Perlakuan 1 menghasilkan kepadatan (149 ind/ml), P2 (102 ind/ml) dan P3 (97 ind/m)l. setelah hari ke-5 atau hari puncak populasi Rotifer mengalami penurunan populasi yang diduga pengaruh faktor nutrisi pada pakan yang diberikan terus berkurang, Berdasarkan nilai rata-rata kepadatan populasi pada Penelitian didapatkan P1 (69,4 ind/ml) P2 (42,9 ind/ml) dan P3 (36,1 ind/ml). Hal ini sesuai dengan Hidayati dan Saparinto (2007), yang menyatakan bahwa nilai rata-rata tingkat kepadatan rotifer yang digunakan dalam kultur semi-masal berkisar 40-50 ind/ml. mulai berkurang. 

Laju pertumbuhan Populasi (K)

Berdasarkan hasil pengamatan kultur yang telah dilakukan selama 9 hari dengan menghitung nilai rata-rata laju pertumbuhan populasi yang dihitung berdasarkan Perhitungan Fogg (1975), Nilai laju pertumbuhan B.plicatilis disajikan pada grafik berikut. 


Gambar 2. Laju Pertumbuhan Populasi

Dikemukakan bahwa perbandingan laju Pertumbuhan antara P1, P2 dan P3 kecuali P0 (kontol) yang di amati 9 hari memiliki selisih angka yang berbeda dari tingkat harike-1 sampai hari ke-9 kultur pada perlakuan kontrol (P0) tidak memiliki data yang signifikan sehingga pengamatan dengan nilai rata-rata perlakuan yang terbaik adalah P1 (3,99) ind/ml, P2 (3,44) ind/ml dan P3 (3,14) ind/ml. Hal ini sesuai dengan Tillman et al., (1991) yang menyatakan bahwa kandungan energi dan protein yang seimbang dalam ransum menyebabkan bahan pakan yang terkonsumsi lebih efisien maka menghasilkan laju pertumbuhan yang tinggi karena nutrisi yang terdapat dalam media tersebut tercukupi untuk pertumbuhan Brachionus plicatilis. 

Nilai terbaik laju pertumbuhan pada puncak populasinya adalah Perlakuan 1 ragi roti 150 mg/l menghasilkan (5,00 ind/ml) kemudian P2 urea 150 mg/l menghasilkan (4,62 ind/ml) dan P3 gabungan menghasilkan (4,57 ind/ml). Setelah fase puncak yakni hari ke-5 populasi rotifer mengalami penurunan populasi, hal ini tentu sesuai dengan Putri (2013) yg menyatakan penurunan kecepatan pertumbuhan pada fase stasioner disebabkan keterbatasan nutrien dan terbentuknya senyawa metabolit sekunder, hasil metabolisme yang terakumulasi.

Hasil perhitungan analisis sidik ragam adalah F hitung > F tabel, H1 diterima H0 ditolak. Pengaruh pemberian ragi roti dan pupuk urea berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan Rotifer (B.plicatilis), maka uji lanjut dengan uji BNT dengan nilai sebagai berikut.

Nilai analisis Uji BNT 

PERLAKUAN

RATA2

Nilai BNT

JUMLAH

NOTASI


P1

3,99

0,260

4,250

a


P2

3,44

0,260

3,700

b


P3

3,14

0,260

3,400

c


Berdasarkan analisis sidik ragam pada penelitian ini, perbedaan pada setiap perlakuan memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap laju pertumbuhan populasi B.plicatilis. Hasil uji lanjut uji BNT, diperoleh bahwa Perlakuan 1 (150 mg/l) dengan notasi a memberikan laju pertumbuhan populasi tertinggi dan terbaik, dibandingkan dengan perlakuan Perlakuan-2 pupukurea (150 mg/l) dengan notasi b dan Perlakuan 3 penggambungan ragi dengan urea (150mg/l) yang mendapat hasil notasi c. 

Urutan penotasian adalah dari nilai terbesar ke nilai data terkecil, karena kultur rotifer mulai dari data terbaik menuju data terendah. hingga disimpulkan setelah semua data yang dihitung, bahwa pengaruh pemberian ragi roti dan pupuk urea sangat berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan, pertumbuhan spesifik dan double time. Hal ini sejalan dengan Afriza,et al., (2015) yg menjelaskan bahwa nitrogen dapat mempengaruhi pertumbuhan Rotifer, baik pembentukan protein maupun asam amino.

Pertumbuhan spesifik (SGR)

Laju perumbuhan spesifik merupakan parameter yang menggambarkan kecepatan pertambahan populasi Brachionus plicatilis per satuan waktu (%). Setelah inokulum dan masa adaptasi berakhir terjadi pertumbuhan yang tercepat pada fase eksponensial. tingkat laju pertumbuhan spesifik (SGR) dapat diketahui pada grafik berikut.


Gambar 3. Grafik Pertumbuhan Spesifik (SGR)

Nilai dari hasil Pertumbuhan Spesifik semua perlakuan dikemukakan bahwa pertumbuhan spesifik pengamatan terus mengalami penurunan secara signifikan. Karena pengaruh pakan yang diberikan hanya 1 kali pada awal kultur maka seiring pertambahan populasi jumlah ketersediaan nutrisi pakan dari hari ke hari akan habis dan menurun.setelah hari ke-6 dilanjutkan dengan Fase drop (kematian) dimana laju kematian lebih tinggi dibandingkan laju reproduksinya.Sesuai dengan Rusyani (2001), menyatakan bahwa terjadinya penurunan Laju pertumbuhan setelah pertumbuhan puncakkarna media kultur yang terbatas, baikkandungan nutrien maupun volume mediakultur. Nilai rata-rata pertumbuhan spesifik yang di amati selama penelitian dapat dilihat pada grafik berikut.


Gambar 4. Nilai rata-rata pertumbuhan spesifik

Berdasarkan data pengamatan pertumbuhan spesifik, dari hari pertama populasi dikemukakan laju pertumbuhan spesifik untuk perkembangan dan pengembang biakkan rotifer ditandai dengan nilai rata-rata hari populasi puncak Perlakuan 1 (0,77%) dan perlakuan 2 (0,71%) dan diperlakuan ke-3 (0,66%). Hal ini sesuai dengan pernyataan Priyambodo (2001), bahwa dalam mengkultur Brachionus plicatilis ketersediaan pakan sangat menentukan terhadap laju pertumbuhan populasinya, apabila kekurang nutrien dalam bahan media dapat menyebabkan terjadinya penurunan laju pertumbuhannya.

Perbedaan persentase setiap perlakuan tersebut disebabkan oleh kemampuan individu dalam menyerap unsur hara yang terdapat pada media.Hal ini juga sejalandengan pernyataan Afriza et, al. (2015), terkadangkosentrasi bahan yang terlalu tinggi membuat bahan sulit untuk diserap oleh individu.Sehingga di asumsikan bahwa hasil laju pertumbuhan populasi, laju pertumbuhan spesifik dan waktu penggandaan diri B.plicatilis yang didapat pada penelitian ini dipengaruhi oleh unsur kandungan yang terkandung dalam pupuk urea dan Ragi roti.

Waktu penggandaan diri (DT)

Waktu penggandaan diri atau double time B.plicatilis adalah waktu yang dibutuhkan rotifer untuk memperbanyak populasi antara satuan waktu periode selama pengamatan (per jam). nilai rata-rata waktu penggandaan diri B.plicatilis tercepat dapat dilihat pada grafik berikut.


Gambar 5. Grafik Rata-rata double time B.plicatilis

Dari grafik diatas dapat diketahui yakni waktu yang dibutuhkan untuk rotifer melakukan penggandaan diri (double time) per satuan jam selama periode penelitian kultur 9 hari. Dan Perhitungan hasil nilai ini pola waktu Penggandaan diri populasi Brachionus plicatilis dengan nilai waktu tercepat yakni P1 (2,02) jam, P2 (2,09) jam dan Waktu penggandaan diripaling lama ditunjukkan oleh perlakuan 3 dengan nilai (2,14) jam. Hal ini sesuaipernyataan Afriza, et al., (2015), wakturegenerasi yang lebih rendah berartipertumbuhan jumlah populasi lebih cepatkarena waktu yang diperlukan untukmemperbanyak individu lebih singkatsehingga untuk mencapai kepadatan maksimum lebih cepat.

Parameter Kualitas air

B.plicatilis adalah jenis zooplankton yang hidup di air laut. B.plicatilis dapat hidup di daerah tropis dan subtropis. Kehidupan B.plicatilis dipengaruhi oleh beberapa faktor ekologi perairan antara lain: suhu, oksigen terlarut dan pH. B.plicatilis dapat beradaptasi dengan baik pada perubahan lingkungan hidupnya dan termasuk dalam ketegori hewan eutitropik dan tahanterhadap fluktuasi suhu harian atau tahunan. Kisaran suhu yang dapat ditolerir bervariasisesuai adaptasinya pada lingkungan tertentu (Priyambodo, 2001). 

Tabulasi Parameter kualitas air

Parameter

Waktu Pengamatan

Kisaran Optimal

Referensi



pagi

Siang




Suhu

23 - 27 °c

28 - 31 °c

22 - 30 °C

(IsnansetyodanKurniastuty 1995)


Salinitas 

37 - 40 ppt

35 - 37 ppt

20 - 35 ppt

(Yamasaki dan Hirata, 1986)


pH

8,1 - 8,2

8,1 - 8,2 ppm

6–9

(Supriya, 2002)


Amoniak 

0,25 - 5 mg/l

0,25 - 4 mg/l

(BPBL 2022)


Do

4,6 - 5,5

>4 ppm dan 5-7

(BPBL 2022) dan (fukoso 1989)


Sumber : Data Primer (2022)

Simpulan 

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :

Pengaruh pemberian Ragi roti dan pupuk urea, Berpengaruh nyata Terhadap laju Pertumbuhan (K), pertumbuhan spesifik (SGR), kepadatan populsi (ind/ml) dan waktu penggandaan diri (DT)

Pengaruh Perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah pengaruh pemberian Ragi Roti 150 mg/l yang memberikan dampak yang nyata untuk tingkat populasi B.plicatilis ini selama periode Penelitian. Peran manajemen kualitas air merupakan faktor mempengaruhi tingkat keberhasilan dan kesuksesan dalam periode pengamatan penelitian.


DAFTAR PUSTAKA

Afriza, Z., G. Diansyah, dan Anna, I. S. P.2015. Pengaruh Pemberian Pupuk Urea  

(CH4N2O) Dengan Dosis Berbeda Terhadap Kepadatan Sel Dan Laju Pertumbuhan Porphyridium Sp. Pada Kultur Plankton Skala Laboratorium. Jurnal Maspari Journal Juli 2015 Vol 7 (2) : 33-40

Fogg G.E (1975), Algae culture and phytoplankton. Ekologi. Secound edition 

Maddison. University of Winconshin. Press p:19

Fukusho K. 1989. Biology and mass pro-duction of the rotifer, Brachionus plicatilis

(1). Int. Jour. Aqua. Fish. Tech., 1 : 232-240.

Hidayati dan Saparinto (2007). Bahan Tambahan makanan. Yogyakarta. 

Kanisius:206

Isnansetyo, A., & Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Fitoplankton dan Zooplankton. 

Kanisius. Yogyakarta. Dalam Daefi T (Ed). Pertumbuhan dan Kandungan Gizi Nannochloropsis sp. Yang Diisolasi dari Lampung Mangrove Center dengan Pembeian Dosis Urea Berbeda pada Kultur Skala Laboratorium. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Priyambodo, 2001. Budidaya Pakan Alami Untuk Ikan. Jakarta: Penerbit PT. 

Penerbar Swadaya. Hlm 28. 

Putri, B., A. Vickry, H. H. W. Maharani. 2013. Pemanfaatan air kelapa sebagai

pengkaya media pertumbuhan mikroalga Tetraselmis sp. Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung. 135-141.

Redjeki S. 1999. Budidaya Rotifera (Brachionus plicatilis).Oseana, Volume XXIV, 

Nomor 2,1999 : 27-43.

Rusyani, E. (2001). Pengaruh Dosis Zeolit yangBerbeda terhadap Pertumbuhan 

Isochrysisgalbana Klon Tahiti Skala Laboratorium damaMedia Komersial. Skripsi. Program StudiBudidaya Perairan. Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan. Bogor: Institut PertanianBogor.

Sahandi, J., & Jafaryan, H. (2011). Rotifer (Brachionus plicatilis) culture in batch 

system with suspension of algae (Nannochloropsis oculata) and bakery yeast (Saccharomyces cerevisiae). Aquaculture, Aquarium, Conservation & Legislation, 4(4), 526-529.

Supriya, 2002. Persyaratan budidaya zooplankton. Budidaya phytoplankton dan 

Zooplankton. Balai budidaya lampung. Direktorat jendral perikanan Budidaya.

Sururi, A. 2014. Budidaya Ikan Hias Clown. Program Pengembangan Sumberdaya 

Perikanan Balai Perikanan Budidaya Laut : Ambon.

Tamaru, C"S., C.S. Lce and H. Ako. 1991. Improving the larval rearing of striped 

nullet (Mueil eplnluelby manipulating quantity and quality of the rotifer, Bruhbnua plicotilis' In W. Fulks and Mein (Eds.), Rotifer and microdgae culture eystem. Proc. of A U.S.- Aria worlahop. The Oceanic Inatitute, Honolulu, Hawaii. p. 89'103

Tillman, A.D, H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo. S. Prawirokusumo, S. Lebdosoekojo. 

1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

YU J.P. and K. HIRAYAMA 1986. The effect of un-ionized ammonia on the 

population growth of the rotifer, Brachionus pticatilis in mass culture. Bull. Japan, Soc. Sci. Fish 52 (9) : 1509-1513.

Riwayat hidup penulis


RIWAYAT HIDUP


Penulis lahir di Gerung, Desa Babussalam, dari Ibu bernama Muri’ah.dan Bapak Bernama H. Multazam. Pendidikan Sekolah Dasar di SDN 2 Babussalam, Sekolah Menengah Pertama di SMPN 2 Gerung,sampai Sekolah Menengah Kejuruandi SMKN 1 Ger ung, dan lulus pada tahun 2017.

Setelah lulus SMK langsung berkerja sebagai karyawan pada sebuah instansi kecil selama lebih kurang setahun. Pada tahun 2018, penulis mendapat informasi penting terkait beasiswa bantuan kuliah untuk orang yang tidak mampu terkait biaya kuliah yang sangat tinggi dan pada akhirnya berkesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjangpendidikan yang lebih tinggi di Fakultas Perikanan Universitas 45 Mataram dengan Program Studi Budidaya Perairan (BP). Dan ketika semester ahir melakukan praktik kerja lapangan (PKL) magang selama satu bulan di Balai Perikanan Budidaya laut Lombok (BPBL) sekotong, dusun gili genting lombok barat NTB, danmelanjutkan Penelitian skripsi dengan fokus Pengaruh pemberian ragi roti dan pupuk urea terhadap laju pertumbuhan rotifer (B.plicatilis). penulis sangat berterima kasih terhadap pemerintah khususnya kementrian riset, teknologi dan perguruan tinggi (Ristekdikti) yang telah memberikan bidikmisi beasiswa.

Senin, 06 April 2020

KUIS MATERI DASAR TENTANG PENCEMARAN PERAIRAN


KUIS MATERI DASAR
TENTANG
PENCEMARAN PERAIRAN


 







DI SUSUN OLEH
KHILAL ADITYA
( 2018154243028 )







DOSEN PENGAMPU

Luh Gede Sumahira Dewi S.Pi










PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN
UPATMA

2020









Nama   : Hilal Aditya
NIM     : 2018154243028
Prodi    : BP
 

KUIS MATA KULIAH PENCEMARAN PERAIRAN


Bacalah wacana di bawah dan jawablah dengan baik dan tepat
Wacana 1 untuk soal no. 1-3
Daerah rumah Tika terdapat sebuah sungai yang airnya jernih karena berasal dari pegunungan. Air tersebut dimanfaatkan warga untuk keperluan sehari-hari. Sungai tersebut dijadikan sumber air minum dan tempat mencuci pakaian warga sekitar. Beberapa tahun kemudian, sungai tersebut tercemar oleh detergen akibat sering dipergunakan untuk mencuci. Selain itu, sungai mulai dipenuhi eceng gondok dan ikan yang ada di sungai jumlahnya berkurang. Sekarang ini, mendapatkan air bersih untuk diminum dan memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi sulit.
Pertanyaan
1.      Buatlah minimal 3 pertanyaan yang sesuai dengan informasi di atas!
2.      Buatlah jawaban yang sesuai dari pertanyaan yang diajukan!
3.      Tuliskan 3 cara mengatasi pencemaran air pada wacana di atas!
JAWABAN
1.      Pertanyaan ku,
                             A.            Siapakah yang sering membuang limbah detergen ke sungai ? dan Mengapa.!
                             B.            Jelaskan definisi singkat Ekosistem Sungai  ?
                             C.            Jelaskan secara Singkat Padat dan jelas  pengaruh Eceng Gondok  pada ekosistem  perairan.?
2.      Jawaban ku,
                             A.            Yang paling sering membuang limbah detergen ke sungai adalah Tika beserta keluarga, karena jarak sungai yang dekat pemukiman , dan rendahnya ilmu pengetahuan tentang perairan memungkinkan warga untuk membuang limbahnya ke sungai tersebut.

                             B.            Ekosistem Sungai
            Seperti namanya, ekosistem sungai ini mempunyai arti sebagai ekosistem yang berada di daerah sungai. Ekosistem sungai ini berarti segala macam interaksi atau hubungan timbal balik dari makhluk hidup dan juga lingkungannya yang mana meliputi kawasan atau daerah sungai meliputi di sepanjang wilayah Daerah Aliran Sungai, dari hulu sungai, badan sungai, dan juga hilir sungai, dan bahkan muara sungai dan berakhir pad laut lepas. Ekosistem sungai ini mempunyai suatu ciri khas.
            Ciri khas yang dimiliki oleh ekosistem sungai ini adalah adanya aliran air yang searah sehingga memungkinkan adanya perubahan fisik dan kimia di dalamnya yang berlangsung secara terus menerus. Selain ciri khas tersebut, kita juga dapat menemukan beragam ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh ekosistem sungai ini. Beberapa ciri atau karakteristik utama yang dimiliki oleh ekosistem sungai antara lain:
                                                                   a.            Adanya air yang terus mengalir dari arah hulu menuju ke arah hilir.
                                                                  b.            Terdapat variasi kondisi fisik dan juga kimia dalam tingkat aliran air yang sangat tinggi.
                                                                   c.            Adanya perubahan kondisi fisik dan juga kimia yang berlangsung secara terus menerus.
                                                                  d.            Dihuni oleh berbagai macam tumbuhan dan juga binatang yang telah beradaptasi dalam kondisi aliran air.
                             C.            Pengaruh Eceng Gondok
            Penyebaran eceng gondok yang tidak terkendali tentu akan menyebabkan gangguan lingkungan. Dampak negatif yang ditimbulkannya pun cukup banyak, antara lain:
                                                      a.            Meningkatnya Penguapan Air
Populasi enceng gondok yang terlalu banyak akan berpengaruh terhadap meningkatnya penguapan karena daun-daun eceng gondok yang lebar serta pertumbuhannya yang cepat.
                                                      b.            Berkurangnya Intensitas Cahaya dan Oksigen Terlarut
Akibat jumlah enceng gondok yang berlebihan, maka cahaya matahari tidak dapat menembus perairan. Selain itu, adanya eceng gondok juga mengakibatkan penurunan oksigen terlarut dalam air sehingga dapat menyebabkan gangguan ekosistem air.
                                                       c.            Menyebabkan Pendangkalan
Eceng gondok yang telah mati akan tenggelam ke dasar perairan, hal ini akan mempercepat proses sedimentasi atau pendangkalan. Akibatnya adalah daya tampung danau atau sungai akan berkurang dan dapat memperbesar risiko bencana banjir.
                                                      d.            Transportasi Air Terganggu
Bagi masyarakat yang mengandalkan alat transportasi sungai seperti perahu untuk penyeberangan sungai, tentu adanya tumbuhan eceng gondok dapat menjadi penghambat kelancaran transportasi air. Contohnya adalah daerah-daerah di Kalimantan yang masyarakatnya banyak menggunakan rakit sebagai transportasi utama.
                                                       e.            Tempat Berkembangbiak Bakteri
Bakteri tertenru dapat berkembang pesat pada habitat perairan enceng gondok. Apabila dibiarkan, hal ini akan berpeluang menimbulkan wabah penyakit bagi manusia.
                                                        f.            Mengurangi Nilai Estetika
Selain menganggu arus atau debit air, serta kehidupan perairan. Waduk, danau atau sungai yang tertutup oleh tanaman enceng gondok akan berkurang nilai keindahannya

3.      Cara mengatasi Pencemaran air ( Pada Wilayah Sungai Tika)
                                                      a.            Limbah rumah tangga dalam bentuk cair dialirkan ke dalam bak penampungan supaya tidak terjadi pencemaran pada sumber air dan juga untuk menghindari bau yang tidak sedap.
                                                      b.            Menghindari penggunaan bahan kimia secara berlebihan serta mencegah supaya tidak ikut larut ke danau ataupun sungai.
                                                       c.            Pada setiap rumah harus memiliki bak pembuangan dan penampungan limbah sebelum di buang ke sungai, limbah tersebut harus sudah diolah dengan cara biologis, kimia, ataupn fisika.
                                                      d.            Sampah plastik, karet, serta kaleng dapat di daur ulang menjadi bahan yang lebih berguna.
                                                       e.            Dan yang terpenting, ketika warga mencuci di sungai itu, Limbah (sisa air cucian) di buang ke daratan bukan dibuang ke sungai

makalah tentang dasar-dasar penyuluhan perikanan


MAKALAH
TENTANG
PENYULUHAN PERIKANAN



 






                                                             DI SUSUN OLEH                                     
Nama      : Khilal Aditya
Nim         : ( 2018154243028 )




DOSEN PENGAMPU
HAMID. S.P., M.Si




PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN
UPATMA
2020









BAB I

PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
            Sektor perikanan memiliki peran yang cukup penting dalam menciptakan lapangan kerja, penyediaan pangan, dan sumber devisa negara. Salah satu sub sektor perikanan yaitu perikanan budidaya (akuakultur) semakin penting perannya dalam pembangunan di negara kita sebagaimana juga di negara-negara lain di dunia ketiga, terlebih lagi produksi perikanan dari hasil penangkapan secara signifikan mengalami penurunan terus menerus selama beberapa dekade terakhir ini (FAO 2007).
            Peluang untuk meningkatkan produksi ikan dari usaha akuakultur sangat besar, mengingat bahwa potensi perairan Indonesia cukup luas, baik yang berupa perairan umum (danau, waduk, sungai dan sebagainya), sawah irigasi, pantai, rawa mangrove, dan perairan budidaya (tambak, sawah, kolam, dan karamba). Luas perairan budidaya yang telah diusahakan sekitar 300 ribu ha dari 17.810 ribu ha total luas areal perairan Indonesia. Produksi akuakultur juga meningkat setiap tahun, seperti yang ditunjukkan dari data produksi akuakultur tahun 2004 sampai 2007 yang meningkat sebesar 28% (Ferinaldy 2008). Terdapat 12 jenis ikan yang menjadi primadona, beberapa di antaranya berupa Ikan Bandeng, Mas, Nila, Lele, Gurame, dan Patin yang menjadi andalan budidaya di air tawar. Perkembangan produksinya dari tahun 2006 mencapai pertumbuhan rata-rata 15% pada 2007 (Ferinaldy 2008).

1.2  RUMUSAN MASALAH
1.2.1.                  Mengetahui Definisi, Fungsi, dan  Tujuan Penyuluhan Perikanan.
1.2.2.                  Mengetahui Komunikasi yang Efektif dalam pelaksanaan penyuluhan .
1.2.3.                  Mengetahui pengertian, Inovasi, adopsi, dan difusi dalam penyuluhan.
1.2.4.                  Mengetahui Metode penyuluhan .




BAB II
PEMBAHASAN

2.1.       Definisi Penyuluhan Perikanan
                        Penyuluhan perikanan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.
                                Penyuluhan merupakan kegiatan pendidikan yang mengandung prosesbelajar mengajar. Agar proses belajar-mengajar berlangsung dengan efektif danefisien, diperlukan suasana belajar-mengajar yang tepat. Metode Penyuluhan adalah cara penyampaian materi (isi pesan) penyuluhan oleh penyuluh kepada petani beserta anggota keluarganya baik secara langsung maupun tidak langsung agar mereka tahu, mau, dan mampu menggunakan inovasi baru.
                    Teknik penyuluhan dapat didefinisikan sebagai keputusan-keputusanyang dibuat oleh sumber atau penyuluh dalam memilih serta menata simbol danisi pesan menentukan pilihan cara, dan frekuensi penyampaian pesan serta menentukan bentuk penyajian pesan. Metoda Penyuluhan tidak lain adalah suasana belajar mengajar yangdiciptakan oleh sumber belajar (dengan partisipasi dari peserta belajar) untuk merangsang dan mengarahkan kegiatan belajar (Leagens, 1960). Sebagai seorang penyuluh (agen pembaharu), kita harus dapat menentukan pilihan method mengajarkan apa yang harus dipakai dalam suatukegiatan pendidikan penyuluhan. Karena ada berbagai metoda yang biasa digunakan dalam penyuluhan pertanian (Sukandar W, 1978). Penentuan method pengajaran apa yang akan digunakan dalam suatukegiatan pendidikan penyuluhan, hendaknya dilakukan dengan memperhatikan karakteristik-karakteristik pada warga belajar. Hasil penelitian-penelitian yang telah dilakukan dalam bidang ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan-perbedaan cara belajar dikalangan warga belajar penyuluh, yang menyebabkanada cara-cara mengajar tertentu yang lebih menarik bagi kelompok – kelompokwarga belajar tertentu.
2.2.       Fungsi Penyuluhan Perikanan
            2.2.1.     Eksplanasi
Fungsi Menurut UU No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan  Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Fungsi sistem penyuluhan meliputi termasuk dalam Pasal 4, yaitu:
                           a).        Memfasilitasi proses pembelajaran pelaku utama dasn pelaku usaha;
                           b).        mengupayakan kemudahan akses pelaku utama dan pelaku usaha ke sumber informasi, teknologi, dan sumberdaya lainnya agar mereka dapat mengembangkan usahanya.
                           c).        Meningkatkan kemampuan kepemimpinan, manajerial, dan kewirausahaan pelaku utama dan pelaku usaha.
                           d).        Membantu pelaku utama dan pelaku usaha dalam menumbuhkembangkan organisasinya menjadi organisasi ekonomi yang berdaya saing tinggi, produktif, menerapkan tata kelola berusaha yang baik, dan berkelanjutan.
                           e).        Membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang dan tantangan yang dihadapi pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengelola usaha.
                            f).        Menumbuhkembangkan kesadaran pelaku utama dan pelaku usaha terhadap kelestarian fungsi lingkungan
                           g).        Melembagakan nilai-nilai budaya pembangunan perikanan yang maju dan modern bagi pelaku utama secara berkelanjutan.
              2.2.2.   Fungsi Penyuluhan
Adalah menjembatani kesenjangan antara praktik yang biasa dijalankan oleh sasaran dengan pengetahun dan teknologi yang selalu berkembang menjadi kebutuhan sasaran tersebut. Dengan demikian, penyuluhan dengan para penyuluhnya merupakan penghubung yang bersifat dua arah (two way traffic) antara :
                           a).        Pengetahuan yang dibutuhkan sasaran dengan pengalaman yang biasa dilakukan oleh sasaran;
                           b).        Pengalaman baru yang terjadi pada pihak para ahli dengan kondisi yang nyata dialami oleh sasaran. Karena itu, fungsi penyuluhan dapat dianggap sebagai penyampai dan penyesuai program nasional dan regional agar dapat diikuti dan dilaksanakan oleh masayarakat, sehingga program- program masayarakat yang disusun dengan itikad baik akan berhasil dan mendapat partisipasi masyarakat.

2.3.       Tujuan Penyuluhan Perikanan
Pedoman ini disusun agar Penyuluh Perikanan memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif tentang tugas dan fungsinya dalam melaksanakan pendampingan kepada pelaku utama dan pelaku usaha perikanan.
Tujuan pedoman Penyuluh Perikanan adalah :
1.  Bagi instansi pembina Penyuluh Perikanan,
·         Sebagai acuan dan arah kebijakan dalam mengukur kinerja Penyuluh Perikanan
2.  Bagi Penyuluh Perikanan,
·         Sebagai acuan dalam pelaksanaanpendampingan kepada pelaku utama dan pelaku usaha perikanan;
·         Sebagai acuan pelaksanaan penyelenggaraan penyuluhan perikanan di kabupaten/kota
3.  Bagi pelaku utama dan pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan,
·         Sebagai acuan dalam pengembangan bisnis usaha perikanan
4.  Bagi Stakeholder,
·      Sebagai acuan dalam membangun sinergi kegiatan pendampingan dan pemberdayaan pelaku utama danpelaku usaha perikanan.


2.4.       KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
          Dalam proses komunikasi terdapat  lima komponen atau unsur penting dalam komunikasi yang harus kita perhatikan yaitu: sender, massage, delivery channel atau media, receiver dan efect/umpan balik (feedback).  Melalui proses komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.
          Secara sederhana menurut Tubbs dan Moss (1996) komunikasi dikatakan efektif bila orang berhasil menyampaikan apa yang dimaksudkannya.  Sebenarnya ini hanya salah satu ukuran bagi efektivitas komunikasi.  Secara umum, komunikasi dikatakan efektif bila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksudkan oleh pengirim atau sumber berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima.



                    2.4.1    PRINSIP DASAR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI
Menurut G. Zakia 2013, factor yg mempengaruhi :
1.    Faktor teknis,
Faktor yang bersifat teknis yaitu kurangnya penguasaan teknis komunikasi. Teknik komunikasi mencakup .unsur-unsur yang ada dalam komunikator dikala mengungkapkan pesan menjadi lambang-lambang.kejelian dalam memilih saluran, metode penyampaian pesan.
2.    Faktor perilaku,
Bentuk dari perilaku yang dimaksud adalah perilaku komunikan yang bersifat: pandangan yang bersifat apriori, prasangka yang didasarkan atas emosi, suasana yang otoriter, ketidak mampuan untuk berubah vvalaupun salah, sifat yang egosentris.
3.    Faktor situasional
Kondisi dan situasi yang menghambat komunikasi misalnya situasi ekonomi, sosial, politik dan keamanan
4.    Keterbatasan waktu
Sering karena keterbatasan waktu orang tidak berkomunikasi, atau berkomunikasi secara tergesa-gesa, yang tentunya tidak akan bisa memenuhi persyaratan-persyaratan komunikasi.
5.    Jarak Psychologis/status social
Jarak psychologis biasanya terjadi akibat adanya perbedaan status, yaitu status sosial maupun status dalam pekerjaan. Misalnya, seorang pesuruh akan sulit berkomunikasi dengan seorang menteri karena ada jarak psichologis yaitu pesuruh merasa statusnya terlalu jauh terhadap  menteri. Selanjutnya, ada orang yang hanya ingin mendengar informasi yang dia senangi saja, sedangkan informasi lainnya tidak.
6.    Adanya evaluasi terlalu dini
Seringkali orang sudah mempunyai prasangka, atau sudah menarik suatu kesimpulan sebelum menerima keseluruhan informasi atau pesan. Hal ini jelas menghambat komunikasi yang baik.
7.    Lingkungan yang tidak mendukung
Komunikasi interpersonal akan lebih efektif jika dilakukan dalam lingkungan yang menunjang, berikut ini beberapa contoh suasana lingkungan yang tidak menunjang atau mendukung yaitu :
·         Keadaan suhu (terlalu panas atau terlalu dingin)
·         Keadaan ribut atau bising
·         Lingkungan fisik yang tidak mendukung (ruang terlalu sempit/ kurang keleluasaan pribadi)
8.    Keadaan si komunikator
Keadaan fisik dan perasaan komunikator sangat berpengaruh terhadap berhasil atau gagalnya komunikasi. Misalnya : Komunikator sedang mempunyai masalah pribadi hingga pikiran kacau, Komunikator sedang sakit, juga mempengaruhi komunikasi, atau kalau komunikator mempunyai cacat seperti suara sengau. gagap dan sebagainya akan mengakibatkan pesan yang disampaikan tidak jelas tertangkap oleh sasaran.
9.    Gangguan bahasa
Komponen semantik: Gangguan semantik ialah gangguan komunikasi yang disebabkan karena kesalahan pada bahasa yang digunakan. Gangguan semantik sering terjadi karena:
10.  Rintangan fisik
Rintangan fisik adalah rintangan yang disebabkan karena kondisi geografis misalnya jarak yang jauh sehingga sulit dicapai, tidak adanya sarana kantor pos, kantor telepon, jalur transportasi dan semacamnya. Dalam komunikasi antar manusia rintangan fisik bisa juga diartikan karena adanya gangguan organik, yakni tidak berfungsinya salah satu panca indra penerima.

2.5.       ADOPSI,  INOVASI  DAN DIFUSI
a.    Pengertian Adopsi dan Difusi Inovasi Dalam Penyuluhan
            Adopsi Inovasi dalam Penyuluhan, Pada hakekatnya adopsi dalam proses penyuluhan, diartikan sebagai proses perubahan perilaku baik yang berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan pada diri seseorang setelah menerima inovasi yang disampaikan penyuluh oleh masyarakat sasarannya. Pengertian adopsi sering rancu dengan pengertian “adaptasi” yang berarti penyesuaian. Selain itu adopsi juga dapat diartikan sebagai proses yang terjadi sejak pertama kali seseorang mendengar hal-hal baru sampai orang tersebut menerima, menerapkan, dan menggunakan hal baru tersebut.
            Dalam proses adopsi ini petani sasaran dapat mengambil keputusan setelah melalui beberapa tahapan. Karena adopsi merupakan hasil dari kegiatan penyampaian pesan penyuluhan yang berupa “inovasi”, maka proses adopsi itu dapat digambarkan sebagai suatu proses komunikasi yang diawali dengan penyampaian inovasi sampai dengan terjadinya perubahan perilaku.  



b.    Difusi Inovasi dalam Penyuluhan
Yang dimaksud dengan proses difusi inovasi adalah perembesan adopsi inovasi dari satu individu yang telah mengadopsi ke individu yang lain dalam system sosial masyarakat sasaran yang sama. Perubahan sosial yang direncanakan pada proses penyuluhan sangat rumit, pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap kegiatan, yaitu: invensi, difusi dan konsekuensi-konsekuensi. Dan dalam perubahan sosial perlu diadakan perencanaan yang terencana, khususnya dalam pembangunan pertanian karena adanya faktor-faktor tertentu.

c.    Tahapan Adopsi menurut (Kartasapoetra, 1987).:
Dalam proses adopsi terdapat tahapan-tahapan sebelum masyarakat mau menerima atau menerapkan dengan keyakinannya sendiri, meskipun selang waktu antara tahapan satu dengan yang lainnya tidak selalu sama (tergantung sifat inovasi, karakteristik sasaran, keadaan lingkungan dan aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh penyuluh). Tahapan-tahapan adopsi adalah:
1.    Awareness atau kesadaran.
Setelah dilakukan penyuluhan dengan daya, gaya dan contoh yang menarik bagi para petani, pada tahap ini para petani baru mengetahui dan menyadari bahwa ada cara-cara : Yang mereka lakukan kurang baik atau mengandung kekeliruan.
2.    Interest atau adanya minat.
Petani yang telah tertarik dan sadar akan perlunya teknologi baru yang berkaitan dengan usaha taninya mulai menaruh minat terhadap cara-cara itu. Karena sikapnya yang selalu hati-hati sehingga mereka masih perlu bertanya-tanya.
3.    Evalution atau penilaian.
Setelah petani mendapat penjelaan-penjelasan dari sesama petani yang tergolong mudah mengadopsi, maka ia mengetahui sesuatu hal yang lebih banyak dan kebimbangannya mulai pudar. Mulailah petani itu melakukan penilaian atau evaluasi terhadap teknologi baru. Pada tahap ini peranan penyuluh dengan jalan memberikan penjelasan yang jelas dan terperinci adalah sangat penting. Penyuluh harus dapat menghilangkan segala keraguan sehingga timbul keinginan petani untuk mencoba inovasi tersebut.
4.    Trial atau mencoba.
Pada tahap ini penyuluh membimbing dan memperagakan materi yang telah disuluhkannya, kemudian penyuluh pertanian menuntun petani agar bisa mempraktekkan teknologi secara mandiri. Penyuluh harus aktif melakukan pengawasan, karena apabila mengalami kegagalan maka kepercayaan petani selanjutnya akan hilang atau sulit ditimbulkan kembali


5.    Adoption atau mau menerima
Tahap ini menjelaskan bahwa para petani akan menerapkan terus-menerus teknologi baru itu dalam kegiatan usaha taninya. Perlakuan demi perlakuan dan keberhasilan demi keberhasilan akan lebih menggairahkan petani, sehingga setiap dilakukan penyuluhan petani tidak pernah absen

d.    Model Difusi Inovasi Dalam Penyuluhan Pertanian
Proses penyebaran inovasi dari suatu sumber inovasi kepada anggota-anggota suatu system sosial digambarkan dalam model difusi inovasi. Dengan menganggap bahwa sumber inovasi hanya berasal dari lembaga penelitian, maka terdapat tiga model difusi inovasi, yaitu: Model Top Down, Model Feed Back dan Model Farmer Back To Farmer.
1.    Model Top Down
Model ini dikemukakan oleh A.H. Bunting (1979), mendeskripsikan model top down ini sebagai model penyuluhan pertanian konvensional sebagai mana halnya proses komunikasi yang melibatkan tenaga teknis dan administrasi penyuluhan, yang diwakili peneliti yang menghasilkan teknologi yang ditransmisikan melalui penyuluhan kepada petani produsen atau sasaran yang diharapkan. 
2.    Model Feedback
Model Feedback ini dikembangkan oleh Benor dan Horison (1977). Model feedback ini dikenal sebagai training dan visit system atau di Indonesia disebut system latihan kunjungan (system LAKU). Model ini dianggap sebagai perbaikan model Top-Down, yaitu dengan mempertimbangkan mekanisme umpan balik antara peneliti- penyuluh pertanian. Dalam model ini, peneliti bekerja di laboratrium dapat memahami dengan baik reaksi petani terhadap teknologi yang dihasilkan peneliti, sehingga terjadi komunikasi langsung antara pakar agronomi, pakar ilmu-ilmu sosial dan penyuluh yang bekerja dengan petani di lapang.
3.    Model Farmer Back To Farmer
Model ini dikemukakan oleh Rhoades dan Booth (1982) yang mengasumsikan bahwa penelitian harus dimulai dan diakhiri dari petani. Dengan demikian dalam model difusi ini terdapat informasi yang lengkap dan akurat mengenai realitas usaha tani. Model juga mengasumsikan bahwa petani memiliki masalah teknologi dan berusaha untuk memecahkanya. Kunci perbedaan dengan model difusi lainnya adalah fleksibilitas dan penelitian ditingkat petani untuk mengidenfikasi sumber daya yang ada ditingkat usaha tani.


PENGARUH PEMBERIAN RAGI ROTI DAN PUPUK UREA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN ROTIFER (Brachiounus plicatilis)

PENGARUH PEMBERIAN RAGI ROTI DAN PUPUK UREA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN ROTIFER (Brachiounus plicatilis) NASKAH PUBLIKASI Oleh : KHILAL ADITYA...